Welcome to my blog !!!

Welcome to my blog !!!

Blog ini membahas tentang keperawatan, kebidanan, serta hal - hal umum lainnya...

Senang sekali jika anda mau berbagi pendapat dengan saya disini... ^^

Minggu, 06 Mei 2012

TIM PELAYANAN KESEHATAN

A.     MODEL KASUS
Model kasus merupakan model pemberian asuhan yang pertama digunakan. Sampai perang dunia kedua model tersebut merupakan model pemberian asuhan keperawatan yang paling banyak digunakan. Pada model ini satu perawat akan memberikan asuhan keperawatan kepada seorang pasien secara total dalam satu periode dinas. Jumlah pasien yang dirawat oleh satu perawat sangat tergantung kepada kemampuan perawat dan kompleksnya masalah dan pemenuhan kebutuhan pasien.
Dalam model kasus perawat mampu memberikan asuhan keperawatan yang mencakup seluruh aspek keperawatan yang dibutuhkan pasien. Pada model ini perawat memberikan asuhan keperawatan kepada seorang pasien secara menyeluruh, sehingga mengetahui apa yang harus dilakukan terhadap pasien dengan baik, sehingga pasien merasa puas dan merasakan lebih aman karena mengetahui perawat yang bertanggung jawab atas dirinya. Dengan model ini menuntut seluruh tenaga keperawatan mempunyai kualitas professional dan membutuhkan jumlah tenaga keperawatan yang banyak.
Model ini sangat sesuai digunakan di ruangan rawat khusus seperti ruang perawatan intensif, misalnya ruang ICCU, ICU, HCU, Haemodialisa dan sebagainya.

B.     MODEL FUNGSIONAL
Model fungsional dikembangkan setelah perang dunia kedua, dimana jumlah pendidikan keperawatan meningkat dan banyak lulusan bekerja di rumah sakit dari berbagai jenis program pendidikan keperawatan. Agar pemanfaatan yang bervariasi tenaga keperawatan tersebut dapat dimaksimalisasi, maka memunculkan ide untuk mengembangkan model fungsional dalam palayanan asuhan keperawatan.
Pada model fungsional, pemberian asuhan keperawatan ditekankan pada penyelesaian tugas dan prosedur keperawatan. Setiap perawat diberikan satu atau beberapa tugas untuk dilaksanakan kepada semua pasien yang dirawat di suatu ruangan. Suatu perawat mungkin bertanggung jawab dalam pemberian obat, mengganti balutan, monitor infuse, dan sebagainya. Prioritas utama yang dikerjakan adalah pemenuhan kebutuhan fisik sesuai dengan kebutuhan pasien dan kurang menekankan kepada pemenuhan kebutuhan pasien secara holistic, sehingga dalam penerapannya kualitas asuhan keperawatan sering terabaikan, karena pemberian asuhan yang terfragmentasi. Komunikasi antara perawat sangat terbatas, sehingga tidak ada satu perawat yang mengetahui tentang satu klien secara komprehensif, kecuali mungkin kepala ruangan. Hal ini sering menyebabkan klien kurang puas dengan pelayanan asuhan keperawatan yang diberikan, karena seringkali klien tidak mendapat jawaban yang tepat tentang hal – hal yang ditanyakan, dan kurang merasakan adanya hubungan saling percaya dengan perawat.
Kepala ruangan bertanggung jawab untuk mengarahkan dan mensupervisi. Komunikasi antar staf sangat terbatas dalam membahas masalah pasien. Perawat terkadang tidak mempunyai waktu untuk berdiskusi dengan pasien atau mengobservasi reaksi obat yang diberikan maupun mengevaluasi  hasil tindakan keperawatan yang diberikan .
Pada model ini kepala ruangan menentukan apa yang menjadi tugas setiap perawat dalam suatu ruangan dan perawat akan melaporkan tugas – tugas yang dikerjakan kepada kepala ruangan. Dan kepala ruangan lah yang bertanggung jawab dalam membuat laporan pasien.
Dalam model fungsional ini koordinasi antar perawat sangat kurang sehingga seringkali pasien harus mengulang berbagai pertanyaan atau permintaan kepada semua petugas yang datang kepadanya, dan kepala ruangan lah yang memikirkan setiap kebutuhan pasien secara komprehensif. Informasi yang disampaikan bersifat verbal, yang seringkali terlupakan karena tidak didokumentasi dan tidak diketahui oleh staf lain yang memberikan asuhan keperawatan.
Dengan menggunakan model ini kepala ruangan kurang mempunyai waktu untuk membantu stafnya untuk mempelajari cara yang terbaik dalam memenuhi kebutuhan pasien atau dalam mengevaluasi kondisi pasien dan hasil asuhan keperawatan, kecuali terjadi perubahan yang sangat mencolok. Dan orientasi model ini hanya pada penyelesaian tugas, bukan kualitas, sehingga pendekatan secara holistic sukar dicapai.
Model fungsional mungkin efisien dalam menyelesaikan tugas – tugas bila jumlah staf sedikit, namun pasien selalu tidak mendapat kepuasan dari asuhan keperawatan yang diberikan.

C.     MODEL TIM
Setelah bertahun – tahun menggunakan model fungsional, beberapa pimpinan keperawatan (nursing leader) mulai mempertanyakan keefektifan model tersebut dalam pemberian asuhan keperawatan professional. Oleh karena adanya berbagai jenis tenaga dalam keperawatan, diperlukan adanya supervisi yang adekuat, maka pada tahun 1950 dikembangkan model tim dalam pelayanan asuhan keperawatan.
Model tim merupakan suatu model pemberian asuhan keperawatan dimana seorang perawat professional memimpin sekelompok tenaga keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan pada sekelompok klien melalui upaya kooperatif dan kolaboratif ( Douglas, 1984 ).
Konsep model ini didasarkan kepada falsafah bawah sekelompok tenaga keperawatan bekerja secara bersama – sama secara terkoordinasi dan kooperatif sehingga dapat berfungsi secara menyeluruh dalam memberikan asuhan keperawatan kepada setiap pasien.
Model tim didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anggota kelompok mempunyai kontribusi dalam merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan sehingga timbul motivasi dan rasa tanggung jawab perawat yang tinggi, sehingga setiap anggota tim merasakan kepuasan karena diakui kontribusinya di dalam mencapai tujuan bersama yaitu mencapai kualitas asuhan keperawatan yang bermutu. Potensi setiap anggota tim saling komplementer menjadi satu kekuatan yang dapat meningkatkan kemampuan kepemimpinan serta timbul rasa kebersamaan dalam setiap upaya pemberian asuhan keperawatan, sehingga dapat menghasilkan sikap moral yang tinggi.
Pada dasarnya di dalam model tim menurut Kron & Gray ( 1987 ) terkandung dua konsep utama yang harus ada, yaitu :
1.      Kepemimpinan
Kemampuan ini harus dipunyai oleh ketua tim, yaitu perawat professional ( registered nurse ) yang ditunjuk oleh kepala ruangan untuk bertanggung jawab terhadap sekelompok pasien dalam merencanakan asuhan keperawatan, merencanakan penugasan kepada anggota tim, melakukan supervise dan evaluasi pelayanan keperawatan yang diberikan.
2.      Komunikasi yang Efektif
Proses ini harus dilaksanakan untuk memastikan adanya kesinambungan asuhan keperawatan yang diberikan dalam rangka memenuhi kebutuhan pasien secara individual dan membantunya dalam mengatasi masalah. Proses komunikasi harus dilakukan secara terbuka dan aktif melalui laporan, pre atau post conference atau pembahasan dalam penugasan, pembahasan dalam merencanakan dan menuliskan asuhan keperawatan dan mengevaluasi hasil yang telah dicapai.
Pengajaran dan bimbingan secara insidental perlu dilakukan yang merupakan bagian dari tanggung jawab ketua tim dalam pembinaan anggotanya. Dalam model ini ketua tim menetapkan anggota tim yang terbaik untuk merawat setiap pasien. Dengan cara ini ketua tim membantu semua anggota tim untuk belajar apa yang terbaik untuk pasien yang dirawatnya berdasarkan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi pasien.
Dalam pelaksanaan model ini, ketua tim dapat memperoleh pengalaman praktek melakukan kepemimpinan yang demokratik  dalam mengarahkan dan membina anggotanya. Pimpinan juga akan belajar bagaimana mempertahankan hubungan antar manusia dengan baik dan bagaimana mempertahankan hubungan antar manusia dengan baik dan bagaimana mengkoordinasikan berbagai kegiatan yang dilakukan dengan beberapa anggota tim secara bersama – sama. Untuk mencapai kepemimpinan yang efektif setiap anggota tim harus mengetahui prinsip dasar administrasi, supervise, bimbingan dan teknik mengajar agar dapat dilakukannya dalam bekerja sama dengan anggota tim. Ketua tim juga harus mampu mengimplementasikan prinsip dasar kepemimpinan.

Tanggung Jawab Kepala Ruangan, Ketua Tim dan Anggota Tim
1.      Tanggung Jawab Kepala Ruangan
Model tim akan berhasil baik bila didukung oleh kepala ruangan, yang berperan sebagai manajer di ruangan tersebut, yang bertanggung jawab dalam :
a.       Menetapkan standar kinerja yang diharapkan dari staf sesuai dengan standar asuhan keperawatan.
b.      Membantu staf dalam menetapkan sasaran asuhan keperawatan
c.       Memberikan kesempatan kepada Ketua Tim untuk mengembangkan kepemimpinan.
d.      Mengorientasikan tenaga keperawatan yang baru tentang fungsi model tim dalam system pemberian asuhan keperawatan.
e.       Menjadi nara sumber bagi Ketua Tim.
f.       Mendorong staf untuk meningkatkan kemampuan melalui riset keperawatan
g.       Menciptakan iklim komunikasi yang terbuka dengan semua staf.
2.      Tanggung Jawab Ketua Tim
a.       Mengkaji setiap pasien dan menetapkan rencana keperawatan
b.      Mengkoordinasikan rencana keperawatan dengan tindakan medik.
c.       Membagi tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap anggota tim dan memberi bimbingan melalui pre dan post conference
d.      Mengevaluasi asuhan keperawatan baik proses ataupun hasil yang diharapkan serta mendokumentasikannya.
3.      Tanggung Jawab Anggota Tim
a.       Melaksanakan tugas berdasarkan rencana asuhan keperawatan yang telah disusun
b.      Mencatat dengan jelas dan tepat asuhan keperawatan yang telah diberikan berdasarkan respon pasien
c.       Berpartisipasi dalam setiap memberikan masukan untuk meningkatkan asuhan keperawatan
d.      Menghargai bantuan dan bimbingan dari ketua tim
Pelaksanaan model tim tidak dibatasi oleh suatu pedoman yang kaku. Model tim dapat diimplementasikan pada tugas pagi, sore, dan malam. Apakah terdapat 2 atau 3 tim tergantung pada jumlah dan kebutuhan serta jumlah dan kualitas tenaga keperawatan. Umumnya satu tim terdiri dari 3 – 5 orang tenaga keperawatan untuk 10 – 20 pasien.
Berdasarkan hasil penelitian Lambertson seperti dikutip oleh Douglas ( 1984 ), menunjukkan bahwa model tim bila dilakukan dengan benar merupakan model asuhan keperawatan yang tepat dalam meningkatkan pemanfaatan tenaga keperawatan yang bervariasi kemampuannya dalam memberikan asuhan keperawatan. Hal ini berarti bahwa model tim dilaksanakan dengan tepat pada kondisi dimana kemampuan tenaga keperawatan bervariasi.
Kegagalan penerapan model ini, jika penerapan konsep tidak dilaksanakan secara menyeluruh/total dan tidak dilakukan pre atau post conference dalam system pemberian asuhan keperawatan untuk pemecahan masalah yang dihadapi pasien dalam penentuan strategi pemenuhan kebutuhan pasien.

D.     MODEL PRIMER
Dengan berkembangnya ilmu keperawatan dan berbagai ilmu dalam bidang kesehatan, serta meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap pelayanan keperawatan yang bermutu tinggi, dengan didasarkan bahwa pemberian asuhan keperawatan model tim masih mempunyai beberapa kekurangan, maka berdasarkan studi, para pakar keperawatan mengembangkan model pemberian asuhan keperawatan yang terbaru yaitu model primer ( Primary Nursing ). Dan perawat yang melaksanakan asuhan keperawatan disebut sebagai “Primary Nurse”.
Tujuan dari model primer adalah terdapatnya kontinuitas keperawatan yang dilakukan secara komprehensif dan dapat dipertanggung jawabkan. Penugasan yang diberikan kepada Primary Nurse atas pasien yang dirawat dimulai sejak pasien masuk ke rumah sakit yang didasarkan kepada kebutuhan pasien atau masalah keperawatan yang disesuaikan dengan kemampuan primary nurse. Setiap primary nurse mempunyai 4 – 6 pasien dan bertanggung jawab selama 24 jam selama pasien dirawat. Primary nurse akan melakukan pengkajian secara komprehensif dan merencanakan asuhan keperawatan. Selama bertugas ia akan melakukan berbagai kegiatan sesuai dengan masalah dan kebutuhan pasien.
Demikian pula pasien, keluarga, staf medic dan staf keperawatan akan mengetahui bahwa pasien tertentu merupakan tanggung jawab primary nurse tertentu. Dia bertanggung jawab untuk mengadakan komunikasi dan koordinasi dalam merencanakan asuhan keperawatan dan dia juga akan merencanakan pemulangan pasien atau rujukan bila diperlukan.
Jika primary nurse tidak bertugas, kelanjutan  asuhan keperawatan didelegasikan kepada perawat lain yang disebut “associate nurse”. Primary nurse bertanggung jawab terhadap asuhan keperawatan yang diterima pasien dan menginformasikan tentang keadaan pasien kepada kepala ruangan, dokter, dan staf keperawatan lainnya. Kepala ruangan tidak perlu mengecek satu per satu pasien, tetapi dapat mengevaluasi secara menyeluruh tentang aktivitas pelayanan yang diberikan kepada semua pasien.
Seorang primary nurse bukan hanya mempunyai kewenangan untuk memberikan asuhan keperawatan tetapi juga mempunyai kewenangan untuk melakukan rujukan kepada pekerja social, kontak dengan lembaga social masyarakat, membuat jadwal perjanjian klinik, mengadakan kunjungan rumah dan sebagainya. Dengan diberikannya kewenangan tersebut, maka dituntut akuntabilitas yang tinggi terhadap hasil pelayanan yang diberikan. Primary nurse berperan sebagai advokat pasien terhadap birokrasi rumah sakit.
Kepuasan yang dirasakan pasien dalam model primer adalah pasien merasa dimanusiawikan karena pasien terpenuhi kebutuhannya  secara individual dengan asuhan keperawatan yang bermutu dan tercapainya pelayanan yang efektif terhadap pengobatan, dukungan, proteksi, informasi dan advokasi. Kepuasan yang dirasakan oleh primary nurse adalah tercapainya hasil berupa kemampuan yang tinggi terletak pada kemampuan supervise. Staf medis juga merasakan kepuasannya dengan model primer ini, karena senantiasi informasi tentang kondisi pasien selalu mutakhir dan laporan pasien komprehensif, sedangkan pada model fungsional dan tim informasi diperoleh dari beberapa perawat. Untuk pihak rumah sakit keuntungan yang dapat diperoleh adalah rumah sakit tidak perlu mempekerjakan terlalu banyak tenaga keperawatan, tetapi tenaga yang ada harus berkualitas tinggi.
Dalam menetapkan seseorang menjadi primary nurse perlu berhati – hati karena memerlukan beberapa criteria, diantaranya dalam menetapkan kemampuan asertif, self direction, kemampuan mengambil keputusan yang tepat, menguasai keperawatan klinik, akuntabel serta mampu berkolaborasi dengan baik antar berbagai disiplin ilmu. Di Negara maju pada umumnya perawat yang ditunjuk sebagai primary nurse adalah seorang Clinical Specialist yang mempunyai kualifikasi master.
Berdasarkan hasil penelitian bahwa model primer dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan bila dibandingkan dengan model tim, karena :
1.      Hanya satu perawat yang bertanggung jawab dan bertanggung gugat dalam perencanaan dan koordinasi asuhan keperawatan.
2.      Jangkauan observasi setiap perawat hanya 4 – 6 pasien bila dibandingkan dengan 10 – 20 orang pada setiap tim
3.      Perawat tim bertanggung jawab selama 24 jam
4.      Rencana pulang pasien dapat diberikan lebih awal
5.      Rencana keperawatan dan rencana medic dapat berjalan parallel


E.      MODEL MODULAR
Pengembangan model modular  merupakan pengembangan dari primary nursing yang digunakan dalam keperawatan dengan melibatkan tenaga professional dan non professional.
Model modular mirip dengan model keperawatan tim, karena tenaga professional dan non professional bekerja sama dalam memberikan asuhan keperawatan kepada beberapa pasien dengan arahan kepemimpinan perawat professional.
Model modular mirip juga dengan model primer, karena tiap 2 – 3 perawat bertanggung jawab terhadap asuhan beberapa pasien sesuai dengan beban kasus, sejak pasien masuk, pulang dan setelah pulang serta asuhan lanjutan kembali ke rumah sakit. Agar model ini efektif maka kepala ruangan secara seksama menyusun tenaga professional dan non professional serta bertanggung jawab supaya kedua tenaga tersebut saling mengisi dalam kemampuan, kepribadian, terutama kepemimpinan. Dalam menerapkan model modular, 2 – 3 tenaga keperawatan bisa bekerja sama dalam tim, serta diberi tanggung jawab penuh untuk mengelola 8 – 12 kasus. Seperti pada model primer, tugas tim keperawatan ini harus tersedia juga selama tugas gilir ( shift ) sore-malam dan pada hari – hari libur, namun tanggung jawab terbesar dipegang oleh perawat professional. Perawat professional bertanggung jawab untuk membimbing dan mendidik perawat non professional dalam memberikan asuhan keperawatan. Konsekuensinya peran perawat professional dalam model modular ini lebih sulit dibandingkan dengan perawat primer. Model modular merupakan gabungan dari model tim dan model primer.

F.      MODEL MANAJEMEN KASUS
Model manajemen kasus merupakan generasi kedua dari model primary nursing. Dalam model ini asuhan keperawatan dilaksanakan berdasarkan pandangan, bahwa untuk penyelesaian kasus keperawatan secara tuntas berdasarkan berbagai sumber daya yang ada.
Tujuan dari manajemen kasus adalah :
1.      Menetapkan pencapaian tujuan asuhan keperawatan yang diharapkan sesuai dengan standar
2.      Memfasilitasi ketergantungan pasien sesingkat mungkin
3.      Menggunakan sumber daya seefisien mungkin
4.      Memfasilitasi secara berkesinambungan asuhan keperawatan melalui kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya
5.      Pengembangan profesionalisme dan kepuasan kerja
6.      Memfasilitasi ahli ilmu pengetahuan
Kerangka kerja dari model manajemen kasus adalah :
1.      Pasien masuk melalui “agency kesehatan”, manajer mempunyai kewenangan dan tanggung jawab dalam perencanaan sampai dengan evaluasi pada episode tertentu tanpa membedakan pasien itu berasal dari unit mana.
2.      Dalam manajemen kasus menggunakan dua cara, yaitu :
a.       Case management plan ( CMP ). Merupakan perencanaan bersama dari masing – masing profesi kesehatan
b.      Critical path diagram ( CPD ). Merupakan penjabaran dari CMP dan ada target waktunya
3.      Manajer mengevaluasi perkembangan pasien setiap hari, yang mengacu pada tujuan asuhan keperawatan yang telah ditetapkan. Bentuk spesifik dari manajemen kasus ini tergantung dari karakteristik tatanan asuhan keperawatan.

0 komentar:

Poskan Komentar