Welcome to my blog !!!

Welcome to my blog !!!

Blog ini membahas tentang keperawatan, kebidanan, serta hal - hal umum lainnya...

Senang sekali jika anda mau berbagi pendapat dengan saya disini... ^^

Senin, 23 April 2012

LAPORAN PENDAHULUAN MORBILI

LANDASAN TEORI MEDIK

A.    PENGERTIAN
Morbili adalah penyakit virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu stadium prodormal ( kataral ), stadium erupsi dan stadium konvalisensi, yang dimanifestasikan dengan demam, konjungtivitis dan bercak koplik ( Ilmu Kesehatann Anak Edisi 2, th 1991. FKUI ).
Morbili adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai dengan gejala-gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau demam, scarlet, pembesaran serta nyeri limpa nadi ( Ilmu Kesehatan Anak vol 2, Nelson, EGC, 2000)

B.     ETIOLOGI
Penyebabnya adalah virus morbili yaitu Rubeola yang terdapat dalam sekret nasofaring dan darah selama masa prodormal sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak. Virus ini berupa virus RNA yang termasuk famili Paramiksoviridae, genus Morbilivirus. virus ini memiliki RNA rantai tunggal, sampai saat ini hanya ada satu serotipe yang diketahui dapat menimbulkan penyakit pada manusia.
Cara penularan dengan droplet infeksi.

C.    EPIDEMIOLOGI
Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan kekebalan seumur hidup. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita morbili akan mendapat kekebalan secara pasif (melalui plasenta) sampai umur 4-6 bulan dan setelah umur tersebut kekebalan akan mengurang sehingga si bayi dapat menderita morbili. Bila seseorang wanita menderita morbili ketika ia hamil 1 atau 2 bulan, maka 50% kemungkinan akan mengalami abortus, bila ia menderita morbili pada trimester I, II, atau III maka ia akan mungkin melahirkan seorang anak dengan kelainan bawaan atau seorang anak dengan BBLR, atau lahir mati atau anak yang kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun. Morbili dapat ditularkan dengan 3 cara,antara lain :
1.      Percikan ludah yang mengandung virus
2.      kontak langsung dengan penderita
3.      penggunaan peralatan makan & minum bersama.
Penderita dapat menularkan infeksi dalam waktu 2-4 hari sebelum timbulnya ruam kulit dan selama ruam kulit ada.
Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif dan kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir dari ibu yang telah kebal (berlangsung selama 1 tahun). Orang-orang yang rentan terhadap campak adalah :
1.      bayi berumur lebih dari 1 tahun
2.      bayi yang tidak mendapatkan imunisasi
3.      Daya tahan tubuh yang lemah
4.      Belum pernah terkena campak
5.      Belum pernah mendapat vaksinasi campak.
6.      remaja dan dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua.

D.    PATOFISIOLOGI
Sebagai reaksi terhadap virus maka akan terjadi eksudat yang serous dan proliferasi sel mononukleus dan beberapa sel polimorfonukleus disekitar kapiler.Kelainan ini terdapat pada kulit, bronkus , selaput lender nasofaring, dan konjungtiva.Biasanya terjadi hyperplasia jaringan limfoid,terutama pada apendiks,dimana sel raksasa multi nucleus berdiameter sampai 100 um ( sel raksasa retikuloendotelial warthin- finkeldey ) dapat ditemukan dikulit,reaksinya terutama menonjol sekitar kelenjar sebasea dan folikel rambut, bercak koplik terdiri dari eksudat serosa dan proliferasi sel endotel serupa dengan bercak lesi pada kulit.Reaksi radang menyeluruh pada mukosa bukal dan faring meluas kedalam jaringan limfoid dan membrane mukosa trakeobronkial.Pneumonitis intestinal akibat dari virus morbili mengambil bentuk pneumonia sel raksasa hecht.Bronkopneumonia dapat disebabkan oleh infeksi bakteri sekunder.

E.     MANIFESTASI KLINIS
Masa tunas/inkubasi penyakit berlangsung kurang lebih dari 10-20 hari dan kemidian timbul gejala-gejala yang dibagi dalam 3 stadium
1.      Stadium kataral (prodormal)
Stadium prodormal berlangsung selama 4-5 hari ditandai oleh demam ringan hingga sedang, malaise ( lemah ),batuk kering ringan, pilek, mata merah, coryza ( katar hidung ), fotofobia ( takut cahaya ) dan konjungtivitis, diare karena adanya peradangan pada saluran pernapasan dan pencernaan. Menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul bercak koplik yang patognomonik bagi morbili, tetapi sangat jarang dijumpai. Bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema. Lokalisasinya dimukosa bukalis berhadapan dengan molar dibawah, tetapi dapat menyebar tidak teratur mengenai seluruh permukaan pipi. Meski jarang, mereka dapat pula ditemukan pada bagian tengah bibir bawah, langit-langit dan karankula lakrimalis. Bercak tersebut muncul dan menghilang dengan cepat dalam waktu 12-18 jam. Kadang-kadang stadium prodormal bersifat berat karena diiringi demam tinggi mendadak disertai kejang-kejang dan pneumoni. Gambaran darah tepi ialah limfositosis dan leukopenia.
2.      Stadium erupsi
Coryza dan batuk-batuk bertambah. Timbul enantema / titik merah dipalatum durum dan palatum mole. Terjadinya eritema yang berbentuk makula papula disertai dengan menaiknya suhu tubuh. Eritema timbul dibelakang telinga dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah. Kadang-kadang terdapat perdarahan primer pada kulit. Rasa gatal, muka bengkak. Terdapat pembesaran kelenjar getah bening disudut mandibula dan didaerah leher belakang. Juga terdapat sedikit splenomegali, tidak jarang disertai diare dan muntah. Variasi dari morbili yang biasa ini adalah “Black Measles” yaitu morbili yang disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus digestivus.
3.      Stadium konvalesensi
Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi) yang bisa hilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak Indonesia sering ditemukan pula kulit yang bersisik. Hiperpigmentasi ini merupakan gejala patognomonik untuk morbili. Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema atau eksantema ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai menjadi normal kecuali bila ada komplikasi

F.     DIAGNOSA BANDING
1.      Eksantema subitum
Disebabkan oleh virus, biasanya timbul pada bayi berumur 6-36 bulan. Perjalanan penyakit mirip morbili, bedanya rash timbul pada saat panas turun.
2.      German measles
Gejala lebih ringan dari morbili, tdd : gejala infeksi saluran napas bagian atas, demam ringan, pembesaran kelenjar regional di daerah occipital dan post aurikular. Rash lebih halus, yang mula-mula pada wajah lalu menyebar ke batang tubuh dan menghilang dalam waktu 3 hari.
3.      Rash karena obat-obatan
Lebih bersifat urtikaria, sehingga rashnya lebih besar, luas, menonjol dan umumnya tidak disertai panas.
4.      Infeksi oleh Ricketsia
Gejala prodromal lebih ringan, rash tidak dijumpai di wajah dan koplik spot tidak ada.
5.      Infeksi mononukleosus
Dijumpai limphadenopati umum dan peningkatan jumlah monosit.
6.      Common cold, scarlet fever

G.    KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat timbul antara lain :
·         Bronkopneumonia ( infeksi saluran napas )
·         Otitis media ( infeksi telinga )
·         Laringitis ( infeksi laring )
·         Diare
·         Kejang demam ( step )
·         Ensefalitis ( radang otak )
·         Bronkiolitis
·         Gastroenteritis
·         Mastoiditis
·         Gangguan gizi

H.    PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.      Pemeriksaan laboratorium
Pada pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan adanya lekopenia.Dalam sputum , sekresi nasal, sediment urin dapat ditemukan adanya multinucleated giant cells yang khas.
2.      Pada pemeriksaan serologis dengan cara Hemaglutination inhibition test dan Complemen fixation test akan ditemukan adanya antibody yang spesifik dalam 1 – 3 hari setelah timbulnya rashdan mencapai puncaknya pada 2 – 4 minggu kemudian.tes ini cukup praktis dan spesifik untuk mendiagnosis morbili atipik atau subklinik.

I.       PENCEGAHAN
1.      Imunusasi aktif
Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan vaksin campak hidup yang telah dilemahkan. Vaksin hidup yang pertama kali digunakan adalah Strain Edmonston B. Pelemahan berikutnya dari Strain Edmonston B. Tersbut membawa perkembangan dan pemakaian Strain Schwartz dan Moraten secara luas. Vaksin tersebut diberikan secara subkutan dan menyebabkan imunitas yang berlangsung lama.
Pada penyelidikan serulogis ternyata bahwa imunitas tersebut mulai mengurang 8-10 tahun setelah vaksinasi. Dianjurkan agar vaksinasi campak rutin tidak dapat dilakukan sebelum bayi berusia 15 bulan karena sebelum umur 15 bulan diperkirakan anak tidak dapat membentuk antibodi secara baik karena masih ada antibodi dari ibu. Pada suatu komunitas dimana campak terdapat secara endemis, imunisasi dapat diberikan ketika bayi berusia 12 bulan.
Vaksinasi tidak boleh dilakukan bila :
a.       Menderita infeksi saluran napas akut yang disertai demam > 38°C
b.      Riwayat kejang demam
c.       Defisiensi imunologik
d.      Sedang dalam pengobatan kortikosteroid dan imunosupresif
Efek samping :
a.       Hiperpireksia ( 5- 15 % )
b.      Gejala infeksi saluran napas bagian atas ( 10-20 % )
c.       Morbili form rash ( 3- 15% )
d.      Kejang demam ( 0,2 % )
e.       Ensefalitis ( 1 di antara 1,16 juta anak )
f.       Demam ( 13,95% )
2.      Imunusasi pasif
Imunusasi pasif dengan serum oarng dewasa yang dikumpulkan, serum stadium penyembuhan yang dikumpulkan, globulin placenta (gama globulin plasma) yang dikumpulkan dapat memberikan hasil yang efektif untuk pencegahan atau melemahkan campak. Campak dapat dicegah dengan serum imunoglobulin dengan dosis 0,25 ml/kg BB secara IM dan diberikan selama 5 hari setelah pemaparan atau sesegera mungkin.

J.      PENATALAKSANAAN MEDIS
Sesungguhnya tidak ada pengobatan yang spesifik untuk mengatasi penyakit campak. Pada kasus yang ringan, tujuan terapi hanya untuk mengurangi demam dan batuk, sehingga penderita merasa lebih nyaman dan dapat beristirahat dengan lebih baik. Dengan istirahat yang cukup dan gizi yang baik, penyakit campak (pada kasus yang ringan) dapat sembuh dengan cepat tanpa menimbulkan komplikasi yang berbahaya.
Bila ringan, penderita campak tidak perlu dirawat. Penderita dapat dipulangkan dengan nasehat agar selalu mengupayakan peningkatan daya tahan tubuh, dan segera kontrol bila penyakit bertambah berat.
Umumnya dilakukan tindakan-tindakan sebagai berikut :
·         Isolasi untuk mencegah penularan
·         Tirah baring dalam ruangan yang temaram (agar tidak menyilaukan)
·         Jaga agar penderita tetap merasa hangat dan nyaman
·         Diet bergizi tinggi dan mudah dicerna. Bila tidak mampu makan banyak, berikan porsi kecil tapi sering (small but frequent)
·         Asupan cairan harus cukup untuk mencegah dehidrasi
·         Kompres hangat bila panas badan tinggi
·         humidikasi ruangan bagi penderita laringitis atau batuk mengganggu dan lebih baik mempertahanakan suhu ruangan yang hangat.
·         Obat-obat yang dapat diberikan antara lain:
-          Penurun panas (antipiretik): Parasetamol atau ibuprofen
-          Pengurang batuk (antitusif)
-          Vitamin A dosis tunggal :
o   Di bawah 1 tahun: 100.000 unit
o   Di atas 1 tahun: 200.000 unit
-          Antibiotika
Antibiotika hanya diberikan bila terjadi komplikasi berupa infeksi sekunder (seperti otitis media dan pnemonia)
-          Kortikosteroid dosis tinggi biasanya diberikan pada penderita morbili dengan ensefalitis yaitu :
o   Hidrokortison 100-200 mg/hr selama 3-4 hari
o   Prednison 2 mg/kgBB/hr selama 1 minggu

K.    PROGNOSA
Morbili merupakan penyakit self – limiting dan berlangsung antara 7-10 hari, sehingga bila tanpa disertai komplikasi, maka prognosanya baik.


LANDASAN TEORI ASKEP

A.    Pengkajian
1.      Identitas : Terutama menyerang golongan umur 5-9 tahun. Pada negara belum berkembang insiden tertinggi < 2 tahun.
2.      Keluhan utama : Panas
3.      Riwayat Penyakit Sekarang : Demam ringan hingga sedang, mencapai puncak hari ke 5 sampai 39° - 40,6°C. Pada bayi / anak kecil disertai kejang demam.
4.      Riwayat Penyakit Dahulu
1)      Antenatal
-          Bila ibu pernah menderita morbili, bayi mendapatkan kekebalan lintas plasenta ( Nelson, 1993 )
-          Pada ibu yang belum pernah menderita morbili, bayi yang dilahirkan tidak punya kekebalan terhadap morbili & menderita penyakit ini setelah dilahirkan ( Rampengan, 1995 )
2)      Natal :
3)      Post natal
-          Bayi yang baru lahir dapat menderita campak bersamaan dengan ibunya yang sedang sakit.
-          Riwayat imunisasi :
Penyakit ini memberikan kekebalan seumur hidup & dapat dicegah dengan imunisasi.
Untuk negara berkembang imunisasi dianjurkan setelah usia 6 bulan ; Boster 15 bulan.
Di negara maju diberikan setelah usia 15 bulan karena antibodi yang didapatkan secara pasif dari ibu sudah hilang.
Pada anak yang mendapatkan imunisasi < 15 bulan, cenderung terkena morbili karena vaksin telah diinaktivasi ( Nelson, 1993 ).

5.      Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit campak sangat menular ± 90 % dari anak – anak yang rentan, dengan kontak keluarga akan mendapatkan penyakit ini.
6.      ADL
a.       Nutrisi : Selama periode demam biasanya disertai anoreksia dan muntah – muntah.
b.      Aktivitas : Selama periode demam biasanya disertai malaise, meningkatnya ketergantungan pemenuhan kebutuhan perawatan diri serta menurunnya aktivitas bermain.
7.      Pemeriksaan
a.       Pemeriksaan Keadaan umum
Suhu tubuh 39º - 40,6º C, malaise dan kelemahan
b.      Pemeriksaan fisik
1)      Kulit : Timbul rash
·         Rash mulai timbul sebagai eritema makulopapular ( penonjolan pada kulit yang berwarna merah )
·         Timbul dari belakang telinga pada batas rambut dan menyebar ke daerah pipi, seluruh wajah, leher, lengan bagian atas dan dada bagian atas dalam 24 jam I.
·         Dalam 24 jam berikutnya, menyebar menutupi punggung, abdomen, seluruh lengan dan paha, pada akhirnya mencapai kaki pada hari ke   2 – 3, maka rash pada wajah mulai menghilang.
·         Proses menghilangnya rash berlangsung dari atas ke bawah dengan urutan sama dengan urutan proses pemunculannya. Dalam waktu       4 – 5 hari menjadi kehitam – hitaman ( hiperpigmentasi ) & pengelupasan (desquamasi).
2)      Kepala
·         Mata :
Konjungtivitis & fotofobia.Tampak adanya suatu garis melintang dari peradangan konjungtiva yang dibatasi pada sepanjang tepi kelopak mata ( Transverse Marginal Line Injectio ) pada palpebrae inferior, rasa panas di dalam mata & mata akan tampak merah, berair, mengandung eksudat pada kantong konjungtiva.
·         Hidung :
Bersin yang diikuti hidung tersumbat & sekret mukopurulen dan menjadi profus pada saat erupsi mencapai puncak serta menghilang bersamaan dengan menghilangnya panas.
·         Mulut : Didapatkan koplik's spot
Merupakan gambaran bercak – bercak kecil yang irregular sebesar ujung jarum / pasir yang berwarna merah terang dan bagian tengahnya berwarma putih kelabu. Berada pada mukosa pipi berhadapan dengan molar ke – 2 , tetapi kadang – kadang menyebar tidak teratur mengenai seluruh permukaan mukosa pipi. Timbulnya pada hari ke – 2 setelah erupsi kemudian menghilang. Tanda ini merupakan tanda khas pada morbili.
3)      Leher :
Terjadi pembesaran kelenjar limfe pada sudut atas rahang daerah servikal posterior. Hal ini disebabkan karena aktivitas jaringan limphoid untuk menghancurkan agen penyerang ( virus morbili ).
4)      Dada :
·         Paru :
Bila terjadi perubahan pola nafas & ketidakefektifan bersihan jalan nafas akan didapatkan peningkatan frekuensi pernafasan, retraksi otot bantu pernafasan dan suara nafas tambahan. Batuk yang disebabkan oleh reaksi inflamasi mukosa saluran nafas bersifat batuk kering. Intensitas batuk meningkat mencapai puncak pada saat erupsi. Bertahan lama & menghilang secara bertahap dalam    5 – 10 hari.
·         Jantung : Terdengar suara jantung I & II.
5)      Abdomen :
Bising usus terdengar, pada keadaan hidrasi turgor kulit dapat menurun.
6)      Anus & genetalia :
·         Eliminasi alvi dapat terganggu berupa diare
·         Eliminasi uri tidak terpengaruh.
7)      Ekstremitas atas dan bawah :
Ditemukan rash dengan sifat sesuai waktu timbulnya.
c.       Pemeriksaan penunjang
Dari hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan leukopenia ringan.
           
B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Ketidakefektifan bersihan jalan nafas, potensial perubahan pola nafas s/d :
a.       Obstruksi trakheobronkhial skunder terhadap penumpukan sekret.
b.      Perubahan mukosa saluran pernafasan skunder terhadap proses inflamasi.
c.       Perubahan kapasitas O2 dalam daerah skunder terhadap hipertermi.
2.      Hipertermi s/d :
a.       Efek pirogen terhadap pengaturan suhu tubuh pada hipotalamus.
b.      Peningkatan metabolisme s / d proses penyakit.
3.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh s/d :
a.       Berkurangnya intake untuk memenuhi kebutuhan metabolisme skunder terhadap anoreksia.
b.      Perubahan absorpsi makanan skunder terhadap diare.
c.       Peningkatan kebutuhan kalori.
4.      Gangguan rasa aman :
a.       Resiko injuri s / d fotofobi skunder terhadap dampak peradangan umum pada konjungtiva.
b.      Resiko terjadinya infeksi skunder s / d tidak adekuatnya pertahanan skunder tubuh : leukopenia
5.      Kurangnya pengetahuan keluarga s / d :
a.       Interpretasi yang salah terhadap informasi
b.      Tidak adanya sumber informasi.

C.    Perencanaan
1.      Diagnosa keperawatan I
Ketidak efektifan bersihan jalan nafas s/d .....
Tujuan : Mempertahankan efektifitas pernafasan
Kriteria hasil :
-          Tidak terdengar suara nafas tambahan.
-          Tidak ada tarikan otot bantu pernafasan.
-          Tidak ada batuk.
-          Tidak ada sekresi dari saluran pernafasan berlebihan.
-          Frekuensi pernafasan dalam batas normal.
Rencana tindakan :
a.       Auskulrasi suara nafas, perhatikan adanya suara nafas tambahan.
R/ Adanya obstruksi pada saluran nafas dimanifestasikan pada suara nafas.
b.      Monitor frekuensi pernafasan.
R/ Takipnea merupakan kompensasi terhadap suatu stress, pernafasan dapat menjadi cepat / lambat.
c.       Bantu pasien pada posisi yang nyaman, kepala lebih tinggi dari kaki.
R/ Diafragma lebih rendah dapat meningkatkan ekspansi dada.
d.      Ubah posisi secara berkala ( teratur ).
R/ Membantu mobilisasi dan pengeluaran sekret.
e.       Latih pasien untuk nafas dalam dan batuk efektif.
R/ Nafas dalam memudahkan ekspansi dada secara maksimal, batuk merupakan mekanisme alamiah untuk mempertahankan bersihan jalan nafas.
f.       Tingkatkan intake cairan sesuai kebutuhan.
R/ Hidrasi membantu menurunkan viskositas sekret dan mempermudah pengeluaran.
g.      Berikan nebulizer.
R/ Kelembaban dapat menurunkan viskositas sekret dan mempermudah pengeluaran.
h.      Bantu melakukan fisioterapi dada.
R/ Postural drainage dan perkusi merupakan tindakan pembersihan yang penting untuk mengeluarkan sekresi & memperbaiki ventilasi.
i.        Lakukan suction.
R/ Bila mekanisme pembersihan jalan nafas ( batuk ) tidak efektif dilakukan suction.
j.        Berikan O2 sesuai indikasi.
R/ Memaksimalkan transport O2 dalam jaringan.

2.      Diagnosa keperawatan II
Hipertermi s/d.....
Tujuan : Klien menunjukkan suhu tubuh dalam batas normal.
Kriteria hasil :
-          Suhu tubuh 36,5º – 37,5º C ( bayi ) , suhu tubuh 36º –37,5ºC(anak)
-          Frekuensi pernafasan : Bayi ; 30-60 x/mnt, anak ; 15-30 x/mnt.
-          Frekuensi nadi : Bayi ; 120-140 x/mnt, anak ; 100-120 x/mnt.
Rencana tindakan :
a.       Monitor temperatur suhu.
R/ Perubahan temperatur dapat terjadi pada proses infeksi akut.
b.      Monitor suhu lingkungan.
R/ Temperatur lingkungan dipertahankan mendekati suhu normal.
c.       Berikan kompres dingin.
R/ Menurunkan panas lewat konduksi.
d.      Berikan antipiretik sesuai program tim medis.
R/ Menurunkan panas pada pusat hipotalamus.

3.      Diagnosa keperawatan III
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh s/d........
Tujuan : Klien dapat menunjukkan dan atau mempertahankan BB yang normal.
Kriteria hasil :
-          Adanya minat / selera makan.
-          Porsi makan sesuai kebutuhan.
-          BB dipertahankan sesuai usia.
-          BB dinaikkan sesuai usia.
Rencana tindakan :
a.       Monitor intake makanan.
R/ Memonitor intake kalori dan insufisiensi kualitas konsumsi makanan.
b.      Berikan perawatan mulut sebelum & sesudah makan.
R/ Mengurangi rasa tidak nyaman dan meningkatkan selera makan.
c.       Sajikan makanan yang menarik, merangsang selera & dalam suasana yang menyenangkan.
R/ Meningkatkan selera makan sehingga meningkatkan intake makanan.
d.      Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering.
R/ Makanan dalam porsi besar / banyak lebih sulit dikonsumsi saat pasien anoreksia.
e.       Timbang BB tiap hari.
R/ Memonitor kurangnya BB dan efektifitas intervensi nutrisi yang diberikan.
f.       Konsul ke ahli gizi.
R/ Memberikan bantuan untuk menetapkan diet dan merencanakan pertemuan secara individual bila diperlukan.
g.      Berikan IVFD sesuai program tim medis.
R/ Dibutuhkan sejak intake nutrisi oral sudah tidak mencukupi.

4.      Diagnosa keperawatan IV
Gangguan rasa aman : Resiko injuri s/d........
Tujuan : Klien tidak mengalami injuri selama terjadi fotofobi.
Kriteria hasil :
-          Mata bersih, tidak ada tumpukan sekret.
-          Mata tidak kemerahan dan berair.
-          Klien tidak mengalami fotofobi.
-          Tidak terjadi injuri.
Rencana tindakan :
a.       Monitor keadaan mata: warna konjungtiva, produksi sekret & air mata, fotofobi.
R/ Fotofobi menghilang bersamaan dengan penyembuhan konjungtivitis.
b.      Lakukan perawatan mata secara teratur.
R/ Membersihkan sekret dan mencegah terjadinya infeksi skunder.
c.       Hindari rangsangan cahaya yang berlebihan.
R/ Terang yang berlebihan akan mempercepat fotofobi.
d.      Jauhkan klien dari benda – benda tajam dan mudah pecah.
R/ Mencegah perlukaan.
e.       Beri papan pengaman tempat tidur.
R/ Fotofobi terutama yang disertai hipertermi dapat membuat pasien gelisah.
f.       Berikan vitamin A sesuai program tim medis.
R/ Vitamin A baik untuk kesehatan mata.

5.      Diagnosa keperawatan V
Resiko terjadinya infeksi skunder s/d.......
Tujuan : Didapatkan kondisi lingkungan yang dapat mencegah / menurunkan resiko terjadinya infeksi.
Kriteria hasil :
-          Klien mencapai kesembuhan.
-          Tidak ada drainage yang purulen.
-          Suhu tubuh dalam batas normal.
Rencana tindakan :
a.       Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
R/ Mencegah kontaminasi silang.
b.      Pertahankan teknik aseptik.
R/ Menurunkan resiko kolonisasi bakteri.
c.       Tingkatkan perubahan posisi / ambulasi, latih nafas dalam dan batuk efektif.
R/ Meningkatkan semua ventilasi segmen paru dan membantu mobilisasi sekret dan mencegah pneumonia.
d.      Tingkatkan intake cairan secara adekuat.
R/ Membantu melancarkan sekresi pernafasan dan mencegah statis cairan tubuh.
e.       Batasi pengunjung, berikan isolasi pernafasan.
R/ Membatasi terpajan dengan bakteri dan membatasi infeksi silang virus morbili pada perawat.
f.       Berikan perawatan diri secara teratur : mandi, BAK, BAB, berpakaian.
R/ Kulit yang kotor merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme.
g.      Monitor suhu secara teratur.
R/ Efek dari proses inflamasi adalah panas ( kenaikan suhu ).
h.      Observasi adanya luka dan drainage purulen.
R/ Indikasi adanya infeksi lokal.
i.        Berikan antibiotik sesuai program tim medis.
R/ Untuk profilaksis.

6.      Diagnosa keperawatan VI
Kurangnya pengetahuan keluarga s/d.....
Tujuan : Secara verbal keluarga dapat mengungkapkan / menjelaskan proses penyakit, penularan dan pencegahan.
Kriteria hasil :
-          Keluarga dapat mengidentifikasi proses penularan, proses penyakit dan pencegahan.
-          Adanya perubahan lingkungan / gaya hidup.
Rencana tindakan :
a.       Berikan informasi morbili secara spesifik.
R/ Memberikan pengetahuan dasar, mengurangi kecemasan dan meningkatkan sikap kooperatif keluarga terhadap tindakan yang akan dikerjakan.
b.      Diskusikan tentang penularan morbili termasuk teknik isolasi.
R/ Menghindari infeksi silang dari anak pada keluarga.
c.       Review pengetahuan keluarga tentang imunisasi dan jelaskan imunisasi campak secara spesifik.
R/ Morbili merupakan penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi.
d.      Diskusikan kemungkinan infeksi skunder, adanya tanda dan gejalanya.
R/ Menurunnya leukosit mempunyai potensi infeksi.
e.       Diskusikan cara oral higiene, perawatan mata dan perawatan kulit yang baik.
R/ Pada fase prodromal dan erupsi perawatan kebersihan diri sangat penting untuk dikerjakan.

C.    Pelaksanaan
Prinsip – prinsip pelaksanaan rencana asuhan keperawatan anak dengan mordili adalah :
1.      Menjaga fungsi pernafasan.
2.      Mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal.
3.      Mempertahankan cairan dan nutrisi.
4.      Mencegah komplikasi dan injuri.
5.      Memberikan informasi pada keluarga tentang proses penyakit, penularan dan pencegahan.
6.      Memperhatikan tumbang anak terhadap dampak hospitalisasi.

D.    Evaluasi
1.      Mengukur pencapaian tujuan.
2.      Membandingkan data yang terkumpul dengan kriteria hasil / pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

0 komentar:

Poskan Komentar